Belajar Tabah seperti Fans Liverpool dan AC Milan

Ketabahan menghadapi segala keadaan sangat penting dalam menjalani kehidupan ini. Kemampuan beradaptasi pada setiap tekanan akan membuat kita tetap hidup bersama harapan-harapan yang mungkin akan teraih di kemudian hari. Dalam hal ini, fans Liverpool dan AC Milan telah mengenyam manis-pahitnya. Jika kita ingin seperti itu, maka kita perlu belajar dari mereka.

Liverpool dan Milan adalah dua klub yang pernah memiliki kekuatan besar di Eropa sehingga kedua klub tersebut memiliki banyak fans yang terbesar di seluruh pelosok dunia.

Liverpool pada tahun 2017 tercatat memiliki pendukung sebanyak 30 juta jika melihat dari jumlah ‘like’ di Facebook. Di Twitter, Liverpool memiliki ‘Follower’ sebanyak 8,6 juta. Sebanyak 4,8 juta orang mengikuti Instagram Liverpool. Google + Liverpool hampir menyentuh angka 5 juta. Dan klub bermarkas di Anfield ini merupakan klub keenam dari 10 klub dengan pendukung terbanyak di dunia.

Sementara itu, Milan tak kalah populernya di mata dunia daripada Liverpool.  Milan berada di urutan kesembilan dalam daftar di atas. Klub asal kota Milan ini tercatat memiliki pendukung sebanyak 24,8 juta di Facebook. Di Twitter terdapat 5,8 juta pengikut dan di Instagram tercatat 3,7 juta pengikut. Dan di Google + terdapat 5,9 juta fans.

Liverpool dan Milan di Final Liga Champions

Wajar jika dua klub di atas memiliki banyak pendukung, termasuk di Indonesia.  Sebab, dua klub tersebut merupakan di antara klub tersukses. Liverpool sendiri mengoleksi lima gelar Liga Champions dan 18 gelar di Premier League. Dalam hal ini Milan lebih unggul, mereka tujuh kali menjuarai Liga Champions dan 18 kali menjuarai Serie A.

Apalagi kedua tim ini pernah menyajikan drama yang tak mungkin terlupakan, yaitu ketika bertemu di final Liga Champions pada tahun 2005. Malam itu sungguh menyita jutaan mata pencinta sepakbola dan masih terkenang hingga saat ini.

Pada malam final yang berlangsung di Stadion  Kemal Ataturk, Istanbul itu, Milan sempat mempermalukan Liverpool. Milan unggul 3-0 di babak pertama. Hasil itu membuat kubu Milan sangat percaya diri akan menggondol trofi.

Tapi di babak kedua semua berubah. Steven Gerrard menjadi inspirasi kebangkitan dengan gol sundulan setelah sembilan menit babak kedua berjalan. Tak lama berselang, tendangan keras jarak jauh Vladimir Smicer kembali membobol gawang Milan. Ketika Milan belum sempat menata mental, pada menit ke-60, Gerrard dijatuhkan di kotak penalti oleh Gennaro Gattuso. Penalti, dan  Xabi Alonso sukses membuat skor kembali imbang 3-3.

Setelah tak ada pemenang selama 90 menit dan babak tambahan 30 menit, juara Liga Champions harus ditentukan melalui babak adu penalti. Liverpool pada akhirnya menang dengan skor 2-3 dalam drama adu penalti. Malam penuh ‘Mukjizat’ ini  kemudian diabadikan dalam film ‘Fifteen Minutes That Shook The World.’

Drama antara kedua tim di panggung Liga Champions tidak selesai sampai di situ. Dua tahun kemudian, tim asuhan Carlo Ancelotti kembali menantang Liverpool dan mereka sukses membalas kekalahan sebelumnya dengan skor 2-1 di Athena.

Setelah itu, Liverpool dan Milan tak pernah bertemu lagi di laga resmi. Bahkan prestasi Liverpool dan Milan terus mengalami kemerosotan.

Tahun 2012 merupakan terakhir kalinya bagi Liverpool menyabet gelar mayor, yaitu di Piala Liga. Setelah itu, mereka tak pernah menyabet gelar apapun. Status Liverpool sebagai klub paling sukses di Inggris pun diambil alih Manchester United yang telah mengumpulkan 42 gelar setelah menjuarai Liga Europa musim lalu.

Antara Harapan dan Kenyataan

Pada musim 2013/2014, Liverpool punya peluang emas menjuarai Premier League untuk pertama kalinya sejak tahun 1990. Namun kesempatan itu terbuang begitu saja.

Kegagalan Liverpool kala itu tak lepas dari tragedi terpelesetnya sang kapten, Steven Gerrard, di pekan ke-36 ketika menghadapi Chelsea di Anfield. Kesalahan itu membuat pemain Chelsea, Demba Ba, dengan mudah menjebol gawang Liverpool. Pada akhirnya Liverpool menyerah dengan skor 2-0.

Liverpool benar-benar kehilangan kesempatan di pekan berikutnya saat bermain imbang 3-3 lawan Crystal Palace. Gelar juara akhirnya jatuh ke tangan Manchester City dan Liverpool harus puas berakhir peringkat dua dengan jarak dua poin dari sang juara.

Pada musim-musim berikutnya, Liverpool semakin terpuruk. Mereka selalu absen dari Liga Champions sejak musim itu dan baru kembali lagi musim ini melalui jalur playoff.

Nasib Milan tak beda jauh dengan Liverpool. Milan terakhir kali menyabet gelar juara di Serie A yaitu pada 2011 lalu. Pada musim berikutnya, Milan masih bisa bersaing dan menduduki peringkat dua sehingga masih bisa bermain di Liga Champions. Sejak musim 2013/2014, Milan absen dari Liga Champions dan belum mampu bangkit hingga saat ini.  Pada 2016 kemarin, Milan sempat angkat trofi meski hanya Supercoppa Italiana.

Musim ini, Liverpool sempat menjadi salah satu favorit juara karena terbukti mampu mengalahkan Arsenal dengan skor 4-0 di pekan ketiga setelah sebelumnya menang atas Crystal Palace. Selain itu, mereka juga telah melakukan perbaikan skuat dengan mendatangkan Mohamed Salah dari AS Roma. Pemain asal Mesir tersebut memecahkan rekor transfer Liverpool dengan harga sekitar 40 juta pounds. Pada waktu yang hampir sama, Liverpool juga membeli Naby Keita lebih mahal dari Salah namun baru akan bergabung dengan The Reds musim depan.

Namun harapan menjadi juara kembali meredup akhir-akhir ini, khususnya setelah rangkaian hasil buruk. Dalam empat laga terakhir, pasukan Jurgen Klopp hanya mampu menang sekali, imbang dua kali, dan kalah sekali. Liverpool saat ini berada di peringkat tujuh klasemen.

AC Milan juga disebut-sebut akan bangkit sejak awal musim ini. Pada bursa transfer musim panas lalu, Milan telah melakukan revolusi skuat di bawah bos baru dari Tiongkok; mendatangkan 11 pemain baru dengan menghabiskan dana sekitar 152 pounds.Buktinya, memasuki pekan ketujuh, Milan masih berada di peringkat tujuh. Sama seperti Liverpool.

Fans Liverpool dan Milan yang Berhati Besar

Jika Anda melihat media sosial baru-baru ini, setelah Liverpool dan AC Milan sama-sama mendapat hasil mengecewakan hampir dalam waktu bersamaan, maka Anda akan banyak melihat fans kedua klub tersebut kecewa—Liverpool hanya mendapat hasil imbang 1-1 lawan Newcastle United dan Milan kalah dari AS Roma di kandang sendiri. Adapun kekalahan Milan membuat posisi Montella kian terancam dan nama Carlo Ancelotti disebut-sebut sebagai kandidat pengganti (Baca:Menunggu Carlo Ancelotti Pulang ke Milan) . 

Ini bukan pertama kalinya mereka kecewa. Tapi mereka terus menunjukkan kebesaran hati. Sekarang mungkin mereka sakit hati, tapi mereka pasti akan kembali memberi dukungan pada tim kesayangan dan tak akan pernah lelah meneriakkan ‘You’ll Never Walk Alone’ oleh fans Liverpool; dan ‘Forza Milan’ oleh pendukung Rossoneri.

Mereka tetap sabar menunggu gelar juara yang diharapkan, meskipun tak ada kepastian sampai entah kapan. Mereka telah membuktikan bertahun-tahun.

“Kesabaran itu pahit tapi buahnya manis,” pesan Aristoteles untuk mereka yang berhati besar.

 

sport-detik.com | Berita Bola, Prediksi Bola, Hasil Pertandingan, Jadwal Pertandingan, Skor Bola, Klasemen dan Transfer Pemain
Sumber : Bola.net

Pos Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *